“Kalau orang berbuat baik kepada kita, maka balaslah dengan kebaikan.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Bahkan mungkin terasa mudah untuk dilakukan.
Ketika seseorang membantu kita, menghargai kita, menjaga perasaan kita, atau memberikan sesuatu yang baik, tentu hati kita terdorong untuk melakukan hal yang sama kepadanya.
Kebaikan bertemu kebaikan.
Senyum dibalas senyum.
Pertolongan dibalas pertolongan.
Perhatian dibalas perhatian.
Itu sesuatu yang baik.
Namun, ada satu bentuk kebaikan yang menurutku jauh lebih sulit untuk dilakukan.
Yaitu membalas kebaikan kepada seseorang yang justru pernah berbuat tidak baik kepada kita.
Di sinilah hati kita benar-benar diuji.
Ketika Kita Disakiti
Tidak semua orang yang kita temui akan memperlakukan kita dengan baik.
Ada orang yang mengecewakan kita.
Ada yang meremehkan.
Ada yang berkata buruk tentang kita.
Ada yang memanfaatkan kebaikan kita.
Ada pula yang mungkin pernah membuat kita merasa sangat kecewa.
Dan ketika hal itu terjadi, reaksi pertama kita sebagai manusia mungkin adalah ingin membalas.
“Kalau dia berbuat seperti itu kepadaku, kenapa aku harus berbuat baik kepadanya?”
Pertanyaan itu sangat manusiawi.
Kita merasa bahwa orang tersebut tidak pantas mendapatkan kebaikan dari kita.
Tetapi mungkin justru di situlah letak nilai dari sebuah kebaikan.
Berbuat baik kepada orang yang baik kepada kita adalah hal yang biasa.
Tetapi ketika kita masih mampu menjaga sikap, tidak membalas keburukan dengan keburukan, bahkan tetap memberikan kebaikan ketika ada kesempatan untuk melakukannya...
itulah sesuatu yang luar biasa.
Bukan Karena Dia Layak, Tetapi Karena Kita Memilih untuk Tetap Baik
Membalas kebaikan kepada orang yang pernah menyakiti kita bukan berarti kita membenarkan perbuatannya.
Bukan berarti kita harus melupakan semua yang pernah terjadi.
Dan bukan pula berarti kita harus terus membiarkan diri kita disakiti.
Kita tetap boleh menjaga jarak.
Kita tetap boleh memberikan batas.
Kita tetap boleh berkata “tidak” ketika memang diperlukan.
Tetapi ada satu hal yang tidak harus kita lakukan:
membalas keburukan dengan keburukan.
Karena ketika kita membalas keburukan dengan keburukan, mungkin kita merasa menang untuk sesaat.
Tetapi tanpa sadar, kita sedang membiarkan keburukan orang lain mengubah diri kita menjadi sesuatu yang tidak kita inginkan.
Sebaliknya, ketika kita memilih tetap berbuat baik, kita sedang mengatakan kepada diri sendiri:
“Perlakuan burukmu tidak akan menentukan siapa diriku.”
Kebaikan Tidak Selalu Harus Dibalas
Kadang kita berbuat baik karena berharap suatu saat orang tersebut akan melakukan hal yang sama kepada kita.
Namun kenyataannya tidak selalu begitu.
Ada kebaikan yang tidak dibalas.
Ada perhatian yang tidak dihargai.
Ada bantuan yang dilupakan.
Bahkan terkadang, orang yang kita perlakukan dengan baik justru kembali menyakiti kita.
Mungkin pada saat seperti itu kita bertanya:
“Untuk apa aku berbuat baik kalau akhirnya begini?”
Menurutku, kebaikan tidak selalu harus memiliki balasan.
Ada kebaikan yang cukup berhenti pada diri kita.
Kita berbuat baik bukan karena orang lain selalu pantas mendapatkannya, tetapi karena kita ingin tetap menjadi manusia yang baik.
Dan kalau suatu kebaikan kita tidak dihargai, setidaknya kita tahu bahwa kita tidak kehilangan diri kita sendiri.
Jangan Sampai Keburukan Orang Lain Menular kepada Kita
Ada sebuah hal yang perlu kita sadari.
Keburukan itu mudah sekali menular.
Seseorang berbicara kasar kepada kita, kemudian kita berbicara kasar kepada orang lain.
Seseorang merendahkan kita, kemudian kita melampiaskannya kepada orang lain.
Seseorang menyakiti kita, lalu tanpa sadar kita menyakiti orang yang sebenarnya tidak memiliki kesalahan apa-apa.
Akhirnya, satu keburukan melahirkan keburukan lainnya.
Karena itu, mungkin kita perlu belajar menghentikan rantai tersebut.
Kalau seseorang berbuat tidak baik kepada kita, biarlah berhenti di kita.
Jangan diteruskan kepada orang lain.
Kita tidak harus membalas semua hal yang menyakitkan.
Tidak semua perkataan harus dijawab.
Tidak semua perlakuan harus dibalas.
Dan tidak semua orang harus kita lawan.
Kadang, memilih diam dan tetap menjadi orang baik adalah bentuk kemenangan yang jauh lebih besar.
Berbuat Baik Bukan Berarti Lemah
Ada yang mungkin menganggap orang yang tetap baik setelah disakiti sebagai orang yang lemah.
Menurutku justru sebaliknya.
Dibutuhkan kekuatan untuk menahan diri ketika kita sebenarnya mampu membalas.
Dibutuhkan kedewasaan untuk tidak mengikuti emosi.
Dan dibutuhkan hati yang besar untuk tetap mendoakan kebaikan bagi seseorang yang pernah membuat kita kecewa.
Berbuat baik bukan berarti kita tidak punya harga diri.
Berbuat baik berarti kita tidak ingin kehilangan harga diri hanya karena perilaku buruk orang lain.
Kita bisa tegas tanpa menjadi kasar.
Kita bisa menjauh tanpa membenci.
Kita bisa memaafkan tanpa harus kembali mempercayai sepenuhnya.
Dan kita bisa tetap baik tanpa harus membiarkan diri kita diperlakukan seenaknya.
Mungkin Suatu Hari Mereka Akan Mengerti
Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di dalam hati seseorang.
Mungkin orang yang pernah berbuat buruk kepada kita sebenarnya sedang menghadapi masalah yang tidak kita ketahui.
Mungkin suatu hari dia akan menyadari kesalahannya.
Mungkin juga tidak.
Tetapi itu bukan lagi sesuatu yang sepenuhnya berada dalam kendali kita.
Yang berada dalam kendali kita adalah bagaimana kita memilih untuk bersikap.
Kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain memperlakukan kita.
Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana kita memperlakukan mereka.
Dan menurutku, itulah salah satu bentuk kebebasan terbesar dalam hidup.
Pada Akhirnya...
Hidup terlalu singkat jika kita habiskan untuk menyimpan dendam kepada semua orang yang pernah menyakiti kita.
Bukan berarti kita harus melupakan semuanya.
Bukan berarti kita harus kembali dekat dengan semua orang.
Tetapi mungkin kita bisa belajar melepaskan rasa ingin membalas.
Biarkan setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya.
Sedangkan kita...
bertanggung jawab atas diri kita sendiri.
Kalau ada orang yang memberikan kebaikan kepada kita, mari kita balas dengan kebaikan.
Tetapi kalau ada orang yang pernah memberikan keburukan kepada kita, semoga kita mampu melakukan sesuatu yang jauh lebih sulit:
tidak membalasnya dengan keburukan.
Kalau ada kesempatan untuk berbuat baik, lakukanlah.
Bukan karena mereka selalu layak mendapatkannya.
Tetapi karena kita ingin tetap menjadi orang baik.
Dan semoga suatu hari nanti, kita semua bisa sampai pada titik di mana kita tidak lagi bertanya,
“Apa yang sudah orang lain lakukan kepadaku?”
Tetapi mulai bertanya,
“Kebaikan apa yang masih bisa aku lakukan hari ini?”
Semoga aku, kamu, dan kita semua bisa belajar menjadi seperti itu.
Membalas kebaikan dengan kebaikan itu biasa.
Tetapi membalas keburukan dengan kebaikan—itulah yang luar biasa.
