Menyelami Keriuhan Dunia: Belajar Menemukan Damai dalam Tauhid
Pernahkah kita merasa lelah hanya karena terlalu banyak memikirkan penilaian orang lain?
Apa pun yang kita lakukan, selalu ada yang berkomentar. Ketika memilih A, ada yang menyalahkan. Ketika memilih B, ada pula yang menganggap kita keliru.
Saya teringat sebuah kisah sederhana tentang seorang kakek, cucu, dan seekor keledai.
Ketika sang kakek menaiki keledai sementara cucunya berjalan, orang-orang mengatakan sang kakek tidak kasihan kepada anak kecil.
Ketika cucunya yang naik dan sang kakek berjalan, mereka kembali berkomentar bahwa anak itu tidak memiliki tata krama.
Ketika keduanya naik bersama, orang-orang mengatakan mereka menyiksa keledai.
Dan ketika keduanya memilih berjalan kaki sambil menuntun keledai, mereka justru ditertawakan karena memiliki tunggangan tetapi memilih berjalan.
Lucu memang.
Tetapi kalau dipikir-pikir, bukankah kehidupan kita sering seperti itu?
Tidak Semua Penilaian Harus Kita Ikuti
Di media sosial, di tempat kerja, bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berusaha menjalani hidup berdasarkan penilaian orang lain.
Kita ingin terlihat benar.
Ingin disukai.
Takut dikritik.
Takut dianggap gagal.
Padahal, semakin kita berusaha memenuhi semua penilaian manusia, semakin sulit menemukan ketenangan.
Dari sini saya belajar bahwa mungkin masalahnya bukan selalu tentang bagaimana orang lain memandang kita.
Mungkin masalahnya adalah kita terlalu lama memandang manusia, sampai lupa kepada siapa seharusnya hati ini bersandar.
Belajar Melihat dengan Rasa Ihsan
Bagi saya, Ihsan adalah salah satu cara untuk kembali menenangkan hati.
Menyadari bahwa dalam setiap keadaan, Allah mengetahui apa yang sedang kita jalani.
Ketika ada orang yang memuji, kita tidak perlu terlalu tinggi.
Ketika ada yang mencela, kita juga tidak perlu langsung jatuh.
Bukan berarti kita mengabaikan nasihat atau menolak kritik.
Justru kita tetap belajar membedakan mana kritik yang perlu diterima dan mana penilaian yang cukup kita lepaskan.
Sebab hidup bukan tentang memenangkan semua penilaian manusia.
Hidup adalah tentang terus belajar memperbaiki diri di hadapan-Nya.
Belajar Mengenal Diri sebagai “Adam”
Semakin saya belajar memahami kehidupan, semakin saya menyadari bahwa manusia sebenarnya sangat terbatas.
Kita bisa berencana, tetapi tidak mampu memastikan hasilnya.
Kita bisa bekerja keras, tetapi tidak bisa menentukan seluruh kejadian yang akan datang.
Kita bisa menjaga kesehatan, tetapi tetap tidak tahu apa yang akan terjadi beberapa saat kemudian.
Di situlah saya belajar memahami makna bahwa diri ini adalah adam—tidak memiliki daya dan keberadaan yang mandiri tanpa peran-Nya.
Bukan berarti kita berhenti berusaha.
Justru kita tetap bekerja, tetap menjaga keluarga, tetap mencari nafkah, tetap belajar dan melakukan apa yang menjadi tanggung jawab kita.
Namun di dalam hati, kita belajar melepaskan rasa bahwa semuanya berada sepenuhnya dalam kendali kita.
Ada Dia yang mengatur.
Ada Dia yang mengetahui.
Ada Dia yang memberi jalan.
Ketika Hati Tidak Lagi Terlalu Bergantung pada Penilaian
Mungkin inilah salah satu bentuk kedamaian yang selama ini kita cari.
Bukan karena kehidupan tiba-tiba menjadi mudah.
Masalah tetap ada.
Pekerjaan tetap harus diselesaikan.
Kebutuhan tetap harus dipenuhi.
Kritik tetap mungkin datang.
Namun hati perlahan belajar untuk tidak menggantungkan ketenangannya kepada semua itu.
Kita bekerja dengan jasad, tetapi berusaha menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Kita menerima nasihat, tetapi tidak membiarkan celaan menguasai hati.
Kita berusaha memperbaiki diri, tetapi tidak menuntut diri untuk menjadi sempurna.
Karena pada akhirnya, hidup memang sebuah proses belajar.
Sebuah Latihan Sederhana
Ketika suasana terasa terlalu ramai, mungkin kita tidak selalu membutuhkan jawaban yang panjang.
Cukup berhenti sebentar.
Tarik napas.
Diamkan hati beberapa detik.
Kemudian tanyakan kepada diri sendiri:
“Saat ini, aku sedang terlalu sibuk memikirkan penilaian manusia, atau sedang berusaha kembali mengingat-Nya?”
Mungkin pertanyaan sederhana itu cukup untuk membuat kita kembali sadar.
Kita boleh tenggelam dalam urusan dunia.
Yang penting, ketika sadar, kita kembali.
Kembali mengingat-Nya.
Kembali memperbaiki niat.
Kembali menjalani peran kita dengan sebaik mungkin.
Penutup
Saya juga masih belajar.
Masih sering lupa.
Masih mudah terbawa keadaan.
Masih kadang terlalu memikirkan bagaimana orang lain melihat diri saya.
Tetapi mungkin memang seperti itulah perjalanan hidup.
Bukan tentang menjadi manusia yang tidak pernah salah, melainkan terus belajar untuk menyadari ketika kita mulai jauh dari arah yang seharusnya.
Dunia akan tetap ramai.
Orang akan tetap memiliki penilaian masing-masing.
Dan kita tidak mungkin mengatur semuanya.
Maka mungkin yang perlu kita benahi bukan dunia di luar diri kita, tetapi hati di dalam diri kita.
Tetaplah berjalan. Tetaplah berusaha. Tetaplah belajar.
Namun jangan lupa pulang.
Pulang kepada kesadaran bahwa kita hanyalah bagian kecil dari sebuah perjalanan yang jauh lebih besar.
Dan pada akhirnya, ketenangan bukan selalu ditemukan ketika semua masalah selesai.
Terkadang, ketenangan hadir ketika hati mulai belajar berserah kepada-Nya.
Catatan Maghfur
Terus belajar mengenal diri, memahami kehidupan, dan mengenal Sang Pencipta.
Wallahu a'lam bish-shawab.
